Wisata & Budaya

Bateeq Rilis Koleksi Fall Winter Bertema Arung

25-04-2019

Surabaya, beritasurabaya.net - Bateeq kembali mengadakan private viewing di Bateeq Store Tunjungan Plaza 6, Surabaya, Kamis (25/4/2019).

Michelle Tjokrosaputro selaku CEO dan Creative Director Bateeq hadir untuk mempersembahkan koleksi terbaru Fall Winter 2019/2020 dengan tema “Arung”. Tema koleksi musim ini terinspirasi dari sejarah perdagangan komersial Indonesia yang pada awalnya dilakukan melalui aktifitas maritim para pelaut pada zaman dahulu.

Seiring bertumbuhnya kebutuhan komoditas pada saat itu mengawali terjadinya perdagangan antar benua. Letak kepulauan Indonesia pada jalur persilangan lalu lintas perdagangan dunia membuat posisinya menjadi strategis dalam perdagangan global dan memperkuat jalur perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara.

”Arung secara harfiah bisa diterjemahkan menjadi "untuk menyeberang" atau "untuk berlayar melalui” yang juga mempunyai gagasan berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau menjelajahi laut dalam upaya untuk menemukan daratan baru,”ujar Michelle.

Bateeq menampilkan 24 looks dalam acara ini, terdiri dari 6 looks wanita dan 3 looks laki-laki dengan tiga motif yang disajikan antara lain, Gatharish, Shindu dan Swarnadwipa. Gatharish berasal dari kata Gata dan Harish. Gata berarti "telah pergi” dan Harish berarti “jalan menuju kebebasan, kebahagiaan, dan ketenangan”.

Penggabungan dari keduanya memiliki makna meninggalkan kehidupan yang lama menuju kehidupan baru dengan tujuan yang lebih baik. Manusia membangun peradaban dan/atau bergerak untuk mencapai tingkat kemakmuran yang sebelumnya tidak mungkin tercapai.

Hal ini diilustrasikan dengan gambar tanaman yang habitat aslinya adalah di alam, meski dipindahkan ke pot menjadi tanaman hias, dia masih dapat hidup dengan baik di luar habitat aslinya. Motif batik lain yang tergabung didalamnya adalah Kawung Picis dan Mega Mendung.

Kawung Picis melambangkan harapan agar orang selalu mengingat asal-usul mereka. Dan bahwa hati nurani seseorang adalah kunci untuk keseimbangan dan kontrol batin.

Untuk Mega Mendung menggambarkan awan yang muncul saat cuaca sedang mendung, mengekspresikan kemampuan untuk mengendalikan emosi atau untuk mengurangi kemarahan dalam situasi tertentu. Filosofi di balik Gatharish adalah bahwa manusia dapat tumbuh dan berkembang di tempat-tempat baru tanpa melupakan dari mana mereka berasal, serta mampu mengendalikan diri agar peradabannya tetap terjaga.

Sindhu memiliki arti lahir dari sungai, pada awalnya peradaban manusia lahir di sepanjang hulu sungai namun telah berubah seiring waktu. Design Sindhu terinspirasi dari batu-batuan dan pepohonan yang disusun secara abstrak pada bidang desain, sebagai penggambaran dari susunan alam yang saat ini dibuat oleh manusia. Yang mana pada zaman sekarang manusia sudah tidak lagi bergantung pada alam, tetapi alam yang bergantung pada manusia. Motif batik yang ada pada desain ini adalah Kawung, Parang dan Banji.

Kawung memiliki pola geometris yang mencerminkan satu titik pusat kekuatan dan kekuasaan di alam semesta. Parang melambangkan kesinambungan dan Banji perlambang murah rezeki atau kebahagiaan yang berlipat ganda.

Makna dari desain Sindhu adalah agar manusia senantiasa menjaga alam, karena alam merupakan pusat kekuatan bagi semesta, serta dapat terus menjaga kesinambungannya demi kemakmuran manusia. Swarnadwipa berasal dari kata Suwarnadwipa yakni pulau emas atau Suwarnabhumi yakni tanah emas.

Motif ini menggambarkan pencarian tentang sesuatu yang sangat berharga di tempat baru dengan harapan baru dan tantangan yang tak terduga. Harapan orang yang menggunakan motif ini akan menjadi orang yang mempunyai pandangan kedepan dan mau mencari pengalaman baru, ilmu serta pemikiran maju ke masa depan.

Palet warna yang digunakan dalam koleksi “Arung” seperti maritime blue, Port Royale maroon, forest night green, dan warna merah koral dengan sentuhan benang metalik emas untuk kain jacquard. Terlihat dalam koleksi kali ini sebuah kerah tambahan yang bisa dilepas-pasang terinspirasi dari kerah pelaut pada zaman dahulu, selain itu teknik kerut juga lebih diperlihatkan dalam koleksi kali ini.

Aksesoris seperti neck band, elbow band, knee band ditambahkan untuk memberikan tampilan yang lebih aktif dan dinamis. Dalam styling-nya dipadu-padankan beberapa lapis kain sebagai representasi dari gendongan barang yang berfungsi sebagai wadah dari barang dagang yang diperjual belikan pada masa itu dan juga tali-temali yang menggambarkan tali pada kapal.

Bateeq juga berkolaborasi dengan salah satu industri rumah tangga lokal di Klaten, Jawa Tengah, yang mempekerjakan lansia untuk membuat kain Tenun Lurik (kain tradisional bergaris yang berasal dari Jawa) menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Dapat terlihat penggabungan kain Tenun Lurik tersebut ke dalam koleksi kali ini, dengan tetap menggunakan bahan Bemberg dan Tencel dengan metode ramah lingkungan yang kedua seratnya memiliki sifat semi sintesis dan biodegradable atau serat yang dapat terurai serta penggunaan bahan Tweed pada beberapa bagian dalam koleksi ini. 

Koleksi Bateeq dapat dipakai dalam segala kesempatan, mulai dari outfit siang hari ke malam hari, dari acara formal ke acara yang lebih santai. Selain tetap selalu mengikuti tren yang ada, juga tetap mempertahankan batik sebagai warisan budaya di Indonesia. Hingga saat ini, gerai Bateeq tersebar di 95 lokasi di seluruh Indonesia. (nos)

Advertising
Advertising