Laporan Khusus

Matakota Peduli Bangun Smart Citizen Kota Surabaya

31-03-2017

Surabaya, beritasurabaya.net - Membangun Surabaya sebagai Smart City bukan hal yang mudah karena butuh Smart Citizen. Untuk mewujudkan Smart City, pemerintah dan masyarakat yang sudah smart dan aware perlu terintegrasi.

Hal ini ditegaskan Founder Matakota, Tony Susanto, Jumat (31/3/2017), saat meluncurkan Matakota, sebuah aplikasi media sosial, pada media di Surabaya.

Tony menjelaskan Matakota ini mampu mengintegrasikan Smart Citizen dan akan membantu pemerintah mewujudkan Smart City. Tujuan pembuatan aplikasi ini, juga sejalan dengan tujuan pemerintah, khususnya Surabaya, yang ingin mewujudkan Smart City. Masyarakat saat ini sejujurnya sudah semakin cerdas dan aware terhadap sesuatu hal. Bahkan berlomba-lomba menyebarkan sebuah informasi. Sayangnya, informasi tersebut hanya tersebar, tidak jarang juga tanpa filter apakah informasi tersebut benar atau hoax.

“Oleh karena itu, pada aplikasi ini terdapat fitur fake report yang berfungsi menyaring info tersebar bukan hoax dan mengintegrasikan agar ada tindakan nyata,”papar Tony.

Digital Marketing Natek Studio, Afietadi Kurniawan, yang akrab disapa dengan sebutan Mamak menjelaskan Matakota sebuah aplikasi media sosial untuk pelaporan kasus yang membutuhkan respon cepat, seperti bencana banjir, kebakaran, kecelakaan, perampokan, pencopetan, dan laporan seseorang yang hilang atau laporan sosial lainnya. Aplikasi yang digarap sejak November 2016 ini, memiliki 5 fitur unggulan, yakni laporan lalu lintas, bencana, kriminal, kebakaran, dan sosial.

Selain 5 fitur unggulan, Matakota juga memiliki fitur utama yakni “Panic Button”. Fitur utama ini berfungsi mendapatkan respon cepat tanggap dari instansi terkait ketika terjadi keadaan darurat. Agar user bisa mendapatkan respon cepat tanggap, Matakota akan terhubung dengan Command Center di beberapa instansi terkait seperti Pemerintah Kota, Kepolisian, Rumah Sakit, Tim SAR, dan Pemadam Kebakaran.

”Sehingga petugas terkait bisa langsung memberikan respon cepat tanggap kepada masyarakat ketika ada laporan keadaan darurat. Dengan begitu, secara tidak langsung akan membantu pemerintah menurunkan angka korban meninggal akibat lambatnya respon jika terjadi kecelakaan atau keadaan darurat lainnya,”ungkap Mamak.

Untuk menggunakan Panic Button tidak bisa sembarang orang, lantaran data user harus terverifikasi terlebih dahulu dari NIK (Nomor Induk Kependudukan) di Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil). Sedangkan user yang belum terverifikasi tidak akan bisa menekan tombol Panic Button.

“Jadi setiap user yang ingin menggunakan tombol Panic Button harus terverifikasi terlebih dahulu untuk menghindari adanya fake report. Akan tetapi, meskipun akun belum terverifikasi, user masih bisa menggunakan 5 fitur unggulan untuk berbagi info maupun melaporkan terjadinya kecelakaan, kebakaran, kebanjiran, perampokan, dan laporan sosial serta bisa mengakses beberapa info penting lainnya,”jelasnya.

Selain berbagi informasi penting, Matakota juga berbagi berita penting yang bermanfaat bagi user. Tidak hanya itu, Matakota juga bisa sebagai media untuk menyampaikan informasi publik dari instansi pemerintahan terkait secara langsung dengan masyarakat (user).

“Pemerintah bisa menghemat biaya untuk sosialisasi atau menyampaikan informasi ke publik. Hanya dengan mengetik pengumuman pada fitur “Event” di Matakota, seluruh user akan mengetahui pengumuman tersebut pada saat itu juga,”tambahnya.

Inovasi Matakota tidak berhenti disitu saja. Fitur unggulan lainnya yang membuat setiap masyarakat wajib menginstall aplikasi Matakota yakni fitur “Lost & Found”. Menurut Mobile App Developer Natek Studio, Arwani, fitur ini berfungsi sebagai pelacak barang yang hilang berdasarkan community yang membutuhkan bluetooth dan GPS (Global Positioning System) untuk menemukan barang tersebut. Dan barang hilang mudah ditemukan.

”Fitur ini membutuhkan sebuah beacon, IoT (Internet of Things) yang diciptakan oleh mereka ke depannya. Kami akan memproduksi masal dan menjualnya dengan harga tidak terlalu mahal,” tukasnya.

Tony menambahkan selama 2017 ini, ditargekan Matakota memiliki 2 juta pengguna. Tony berharap aplikasi Matakota ini bisa direspon Pemkot Surabaya.

”Sekitar Mei mendatang, kami mendapat undangan dari Singapura dan Bangkok untuk memaparkan aplikasi Matakota. Mereka ingin aplikasi ini bisa dimanfaatkan di kedua kota dan aplikasi ini murni buatan arek Suroboyo,”pungkas Tony. (noer soetantini)

Teks foto :

Kiri-kanan : Arwani (programmer), Gita Hanandika (programmer), Tony Susanto (founder) dan Afietadi Kurniawan (Digital Marketing Strategic).

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising