Laporan Khusus

Dongkrak Pasar, M-150 Edukasi Ritel Tradisional

04-07-2013

Surabaya, beritasurabaya.net - Banyak ritel tradisional tidak mampu bersaing dengan ritel modern. Ini disebabkan banyak hal, satu diantaranya, ritel tradisional belum mengenal Visual Merchandising (VM). Padahal VM ini bisa dilakukan dan diaplikasikan di level ritel tradisional.

Dengan menerapkan VM, peritel tradisional bisa meningkatkan penjualannya dan outletnya menjadi lebih menarik dikunjungi konsumen. Melihat kondisi ritel tradisional yang belum tersentuh dengan VM, produsen minuman berenergi PT M-150 Indonesia mengedukasi 250 ritel tradisional yang ada di Surabaya.

Menurut GM PT M-150 Indonesia, Mohammad Anwar Nasution, di sela Journalis Class Visual Merchandising di Hotel Mercure Surabaya, Kamis (4/7/2013), mengedukasi VM pada ritel tradisional merupakan langkah awal M-150 dalam memperbesar pasar minuman berenergi. Sampai saat ini, pasar minuman berenergi relatif masih kecil yakni 4 persen.

Dengan mengedukasi ritel tradisional, kata Anwar, sampai akhir tahun bisa mendongkrak pasar hingga jadi 5 persen. ''Apa yang kami lakukan ini merupakan pioneer dibandingkan produk kompetitor yang lebih dulu menguasai pasar. Kami yakin dengan mengedukasi ritel tradisional, pasar M-150 akan terus membesar,''ujarnya.

Kenapa ritel tradisional harus diedukasi ? Kata Anwar, karena selama ini tidak ada pakem yang jelas memajang produk di tingkat ritel tradisional. Semua produk dipajang apa adanya dan campur aduk. Konsumen tidak bisa bebas memilih produk dan kondisi outlet umumnya kotor dan kumuh.

Kondisi ini sangat berbeda dengan ritel modern yang benar-benar memperhatikan VM sebagai daya tarik konsumen. ''Menjelasng 2015, kami ingin menyiapkan ritel tradisional bisa bersaing dengan ritel modern. Outlet mereka lebih tertata dengan penerapan VM,''tukas Anwar.

Selain mengedukasi ritel modern, pihaknya juga memberikan apresiasi bagi pemilik outlet melalui ''Jagone Majang''. National Trade Marketing Manager M-150, Satya Bayu, menjelaskan dari 250 pengusaha ritel kecil yang mengikuti kompetisi akan dipilih 30 pemenang. Mereka dibagi dalam kategori Semi Grosir, Toko Eceran, dan Warung Rombong.

Mengedukasi ritel tradisional dan kegiatan Jagone Majang, kata Bayu, akan diteruskan ke beberapa kota besar di Indonesia. ''Surabaya menjadi proyek percontohan bagi kota-kota lainnya di Indonesia. Surabaya dipilih karena berada di Jawa Timur dan Jawa Timur paling banyak penduduknya dibanding provinsi lainnya,''ungkap Bayu.

Sedangkan Branch Manager PT CCU (Distributor M-150 Surabaya), Rudi Cangir mengakui upaya yang dilakukan M-150 mengedukasi ritel tradisional selama 2 bulan, mampu meningkatkan penjualan hingga 50 persen. Sebelum dilakukan edukasi, sales M-150 hanya bisa menjual 3 botol per hari ke ritel tradisional dan setelah diedukasi bisa mencapai 2 hingga 3 kali lipat.

''Kami berharap program dari manajemen M-150 terus berlanjut. Karena sebagai distributor kami hanya bisa mendistribusikan produk saja. Dengan dibantu promosi, pendistribusian produk akan semakin banyak dan lancar,''tambahnya. (noer soetantini)

Teks foto :

Manajemen M-150 usai memberikan Journalist Class dengan materi Visual Merchandising dengan tutor Andika Dwijatmiko dari Yogyakarta.

Foto : Titin

Advertising
Advertising