Politik & Pemerintahan

Banyak Kerentanan Dampak Pandemi Di Daerah Bencana

25-02-2021

Jakarta, beritasurabaya.net - Lebih dari 85 persen responden di komunitas yang dilanda bencana di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat mengalami 'beban ganda' kerugian ekonomi akibat pandemi Covid-19, menurut survei cepat UNICEF, UNDP dan SMERU Research Institute yang diluncurkan Kamis (25/2/2021).

Lebih dari 800 rumah tangga di dua provinsi tersebut disurvei antara bulan Juli dan Agustus 2020 dalam kajian cepat berjudul “Dampak sosial ekonomi pandemi COVID-19 di daerah pascabencana”. Studi tersebut menganalisis dampak sosial ekonomi pandemi dan gempa bumi 2018 yang melanda kedua provinsi tersebut.

Area fokus studi ini adalah Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat, serta Kabupaten Sigi dan Palu di Sulawesi Tengah. Studi ini meninjau kondisi pendapatan dan keuangan, akses kesehatan dan pendidikan, serta kesadaran masyarakat dalam mengakses bantuan pemerintah.

“Survei ini mampu menggali akar masalah yang terjadi di masyarakat. Terimakasih kepada UNDP dan UNICEF atas survei Dampak Sosial Ekonomi.  Hasil survei akan menjadi rujukan dalam Penyusunan program dan membangun sinergi dengan berbagai pihak,  khususnya dengan UNDP dan UNICEF ,” ujar Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zulkieflimansyah dalam kata sambutan di acara peluncuran laporan.

Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sophie Kemkhadze, mengatakan, temuan studi mengkonfirmasi pengamatan awal bahwa kelompok terentan di Indonesia adalah yang paling terdampak, terutama akibat bencana alam baru-baru ini. Terlepas dari tantangan yang semakin meningkat, survei menunjukkan bahwa banyak komunitas yang terkena dampak ingin segera melewati bencana, membangun kembali kehidupan mereka, dan menunjukkan ketahanan yang kuat.

“Kami harap studi ini akan memberikan bukti yang sangat dibutuhkan bagi Pemerintah Indonesia untuk mengatasi dampak pandemi yang dapat menyebabkan kemunduran terhadap pencapaian pembangunan manusia dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang diperoleh dengan susah payah,” kata Sophie Kemkhadze.

Studi tersebut juga menemukan bahwa anak-anak di daerah yang dilanda bencana menanggung beban pandemi. Sebanyak 21,8 persen rumah tangga mengalami kesulitan mengakses layanan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak mereka.

“Sebanyak 603 keluarga yang disurvei kehilangan pendapatan yang signifikan pada tahun 2020, dan berisiko tinggi jatuh ke dalam kemiskinan. Anak-anak mereka berisiko kehilangan akses ke nutrisi yang baik dan kebutuhan dasar lainnya. Program perlindungan sosial yang berfokus pada anak yang dipimpin oleh pemerintah dapat membantu mengurangi kemiskinan anak,” kata Chief of Social Policy UNICEF Indonesia, Fernando Carrera.

Studi tersebut menemukan 65,7 persen rumah tangga berpenghasilan kurang dari Rp 1 juta per bulan melaporkan kehilangan pendapatan setelah bencana alam tahun 2018. Kehilangan pekerjaan juga cukup merajalela. 66,4 persen rumah tangga dalam kelompok pendapatan yang sama melaporkan kehilangan pekerjaan, menunjukkan rumah tangga tersebut rentan secara ekonomi dan cenderung terkena dampak bencana.

Perempuan telah mengalami dampak negatif yang signifikan, 83,9 persen mengindikasikan bahwa mereka memperoleh pendapatan yang lebih rendah di bulan Juni dibandingkan dengan awal tahun 2020. Meskipun lebih dari 40 persen rumah tangga melaporkan menerima bantuan pemerintah, baik dalam bentuk tunai atau bantuan pangan, 47 persen rumah tangga tidak menerima bantuan langsung tunai dan 40,9 persen tidak menerima bantuan sosial pangan.

“Kajian bersama ini menunjukkan bahwa perubahan  atau bencana mempengaruhi rumah tangga secara berbeda. Mereka yang berada dalam kelompok berpenghasilan rendah, rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan, rumah tangga dengan anak-anak dan penyandang disabilitas sangat rentan. Dengan sumber daya yang terbatas, sistem pendukung eksternal harus memastikan mata pencaharian rumah tangga rentan tersebut. Kami harap studi ini dapat menjelaskan isu-isu yang perlu ditangani untuk melindungi rumah tangga rentan dari dampak bencana di masa depan dan menguatkan ketahanan mereka,” kata Asep Suryahadi dari SMERU Research Institute.

Studi ini mengusulkan empat poin utama; (i) Pemerintah harus bekerja dengan pemerintah desa dan anggota masyarakat lokal untuk mendokumentasikan rumah tangga rentan dan menyalurkan bantuan; (ii) Melibatkan pemerintah desa dan anggota masyarakat setempat untuk mendukung praktik pendidikan; (iii) Mendukung penyedia layanan kesehatan dan petugas kesehatan untuk memastikan layanan kesehatan dasar dapat diakses dan (iv) Memprioritaskan program pemulihan di daerah termiskin agar dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 dapat diminimalisir atau bahkan dihindari. (nos)

Advertising
Advertising
Pemadam Kebakaran
Surabaya Pusat
031-3533843-44
Surabaya Utara
031-3712208
Surabaya Timur
031-8411113
Surabaya Barat
031-7490486
Surabaya Selatan
031-7523687
Rumah Sakit & Klinik
RSUD Dr. Sutomo
031-5020079
RS Darmo
031-5676253
RS ST Vincentius A Paulo
031-5677562
RS William Booth
031-5678917
RS Adi Husada
031-5321256
Kepolisian
Polda Jatim
(031) 8280748
Polrestabes
(031) 3523927