Kesehatan

Usia di Atas 40 Tahun, Perlu Lakukan MRI

01-03-2013

Surabaya, beritasurabaya.net - Tidak ada gangguan kesehatan bukan berarti bebas dari ancaman penyakit. Justru saat gangguan kesehatan belum muncul, sebaiknya setiap orang melakukan tes dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Dengan MRI, beragam ancaman seperti penyakit otak dan kelainan tulang belakang bisa dideteksi lebih dini. Hal ini disampaikan Prof Dr dr Abdul Hafid Bajamal SpBS Spesialis Bedah Saraf dari Brain& Spine Center (BSC) RS Mitra Keluarga Surabaya dalam Media Diskusi tentang Minimally Invansive Neurosurgery untuk Penanganan Kelainan Otak dan Tulang Belakang di Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat (1/3/2013).

Hafid merekomendasikan bahwa setiap orang terutama di atas usia 40 tahun minimal melakukan MRI setahun sekali. Atau individu yang sering mengalami nyeri pinggang, vertigo, telinga sering berdengung, tiba-tiba kehilangan rasa, juga perlu melakukan deteksi dini dengan MRI untuk mencegah munculnya penyakit neurologis.

Mengutip data Dinas Kesehatan, penyakit neurologis menempati urutan pertama. Padahal sebelumnya berada di posisi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker.

Saat ini, menurut Hafid, tercatat bahwa 80 persen populasi dunia pernah mengalami nyeri pinggang (low back pain) dan merupakan penyakit neurologis kedua paling umum setelah sakit kepala.

Sebanyak 20 persen dari populasi tersebut biasanya membutuhkan penanganan yang serius. Di Jawa Timur sendiri dari hasil survei menunjukkan ada 140 ribu pasien bedah syaraf namun belum tertangani secara maksimal.

''Untuk itu, diperlukan inovasi pembedahan dengan resiko terkecil dan tingkat keberhasilan yang lebih baik menjadi krusial. Perlu penanganan minimally invasive neurosurgery yang di Indonesia sendiri masih langka dilakukan. Namun di Surabaya sudah dapat dilakukan,''papar Hafid.

Prosedur minimally invasive neurosurgery merupakan prosedur pembedahan yang dilakukan dengan cara seminimal mungkin memasuki tubuh melalui rongga, kulit atau pembukaan tubuh dengan kerusakan sekecil mungkin. Dengan demikian dampak pembedahan dapat diminimalkan.

Dr Eko Agus Subagio SpBS menjelaskan banyak teknik pembedahan yang bisa dipilih pasien yang mengalami kelainan tulang belakang. Satu diantaranya dengan mengaplikasikan prosedur mikroscopic decompression.

''Prosedur ini sangat aman dilakukan dan memberikan hasil yang lebih baik bila dilakukan sesuai indikasi,''ujarnya.

Sementara itu, dalam kasus kelainan otak, dr Asra Al Fauzi SpBS mengatakan bisa ditangani dengan operasi lubang kunci lewat alis (eyebrow keyhole approach). Pembedahan dilakukan lewat alis, tanpa melakukan penyayatan yang biasanya dilakukan dengan pembedahan besar.

''Dengan prosedur ini operasi berlangsung 1 hingga 1,5 jam. Sedangkan prosedur biasa bisa 4 sampai 6 jam. Pasien tak harus rawat inap dan luka sayatan minimal 2-3 cm saja,''tukas Asra.

Hafid menjelaskan di negara-negara maju seperti Jepang, penanganan penyakit otak dan kelainan tulang belakang sudah diantisipasi sejak dini dengan MRI. Umumnya, mereka memiliki dokter keluarga.

Sementara di Indonesia sendiri, kata Hafid, pemerintah targetkan tahun 2014 nanti setiap orang bisa melakukan MRI melalui asuransi. ''Memang saat ini biaya untuk MRI Rp 2,1 juta. Kalau melalui asuransi, untuk MRI sudah dikover asuransi,''pungkasnya. (nos)

Teks foto :

Ki-ka : Prof Dr dr Abdul Hafid Bajamal SpBS, Nurhayati (pasien yang pernah menjalani operasi lubang kunci lewat alis, dr Asra Al Fauzi SpBS dan Dr Eko Agus Subagio SpBS.

Foto : Titin

Advertising
Advertising