Perempuan

Kerja Jurnalistik Penting Punya Perspektif Ini

28-08-2021

Jakarta, beritasurabaya.net - Perspektif  kesetaraan dan keadilan atas dasar relasi kuasa sangat penting digunakan dalam kerja jurnalistik. Hal ini ditegaskan Maria Hartiningsih, jurnalis senior Harian Kompas (1984-2015) sekaligus penulis dan juga penerima Yap Thiam Hien Award, dalam Webinar Workshop bertema “Jurnalisme Responsif Gender”, yang diadakan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Sabtu (28/8/2021).

Maria mengatakan isu perempuan dan anak saat ini merupakan isu multidimensi yang tersebar dalam berbagai isu dan komprehensif. Untuk itu, membutuhkan pemahaman mengenai duduk soal adalah keharusan, sehingga tidak keliru untuk memilih angle berita, perspektif serta pemilihan narasumber. 

Dalam kesempatan tersebut, Maria memaparkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis berita terkait isu perempuan, seperti menulis berita perkosaan dan kekerasan seksual, hingga bagaimana sebaiknya menulis berita kelompok-kelompok yang terpinggirkan karena pilihan-pilihan seksualnya, biologis maupun psikologisnya.

Maria menilai gender merupakan persoalan kesetaraan dan dominasi, bisa dilihat bahwa dominasi laki-laki terhadap perempuan itu selalu lebih besar. Tapi tidak hanya laki-laki dan perempuan, bisa juga perempuan dengan perempuan, intinya gender ini adalah dominasi antara yang kuat dengan yang lemah.  

Lebih lanjut dikatakannya, gender berbeda dengan jenis kelamin biologis yang ciri-cirinya sudah melekat sejak lahir. Gender merupakan jenis kelamin sosial, berupa rekayasa atau konstruksi sosial, dipengaruhi oleh faktor-faktor ideologi, sosial, ekonomi, politik, budaya, adat istiadat, etnik, golongan, juga faktor sejarah, waktu dan tempat serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Gender itu sifatnya tidak menetap,” kata Maria.

Ia mencontohkan lahirnya asumsi bahwa laki-laki itu lebih kuat, gagah, disiplin dan lebih pintar sehingga bekerja di ruang publik, sementara asumsi perempuan lemah lembut, keibuan, halus dan tempatnya bekerja di dalam rumah, sumur dapur dan kasur. Asumsi ini pun melebar bahwa ranah publik dan politik seperi eksekutif, legislatif dan yudikatif merupakan miliknya laki-laki.

“Padahal tidak ada kaitannya antara jenis kelamin dengan kemampuan memimpin dan bernegosiasi,” terang Maria. 

Media massa sendiri, kata Maria, menggambarkan perempuan dengan P-5 yakni citra peraduan, citra pigura, pilar rumah tangga, citra pergaulan dan citra pinggan. Contohnya, dapat dilihat dari berbagai iklan di media massa. Seperti iklan ban yang selalu menggunakan perempuan seksi, padahal tidak ada hubungannya, begitu juga dengan iklan sabun cuci, selalu menggunakan model perempuan, hal ini perlu dipertanyakan apakah pekerjaan domestik itu adalah milik perempuan, bukankah laki-laki juga terbiasa untuk mencuci baju. 

Defenisi gender sendiri, lanjutnya banyak sudah dikembangkan para ahli, seperti Joan Wallach Scott, Sejarawan Amerika yang menyebut gender sebagai persoalan relasi kuasa dalam hubungan-hubungan sosial, khususnya antara perempuan dan laki-laki. Kondisi ini memunculkan ketidakadilan gender karena adanya  relasi kuasa yang timpang sehingga menciptakan diskriminasi terhadap salah satu gender, dan biasanya dalam hal ini laki-laki yang lebih diuntungkan.

Sementara itu, Ketua FJPI, Uni Lubis saat membuka Webinar Workshop mengatakan, webinar ini merupakan moment reconnecting terutama di masa pandemi ini, karena banyak hal yang bisa dilakukan secara daring, seperti kesempatan untuk belajar hal-hal yang baru mapun hal-hal yang sebelumnya sudah pernah dipelajari.

“Satu yang muncul di masa pandemi ini baik dari laporan UN Women, yakni meningkatnya kasus KDRT, banyaknya tempat yang berbahaya baik bagi perempuan dan anak. Di awal pandemi kita juga membuat liputan meningkatnya angka aborsi yang tidak diinginkan tentu banyak sekali isu-isu tentang perempuan,” kata Uni. 

Bahkan kata Uni, saat ini isu-isu perempuan dan anak sudah semakin meningkat, sehingga jangan sampai isu tersebut tidak menjadi isu mainstream bagi jurnalis, Sebab, pandemi ini bukan hanya soal krisis kesehatan, ekonomi, tapi krisis sosial. 

Voice of the voiceless itu harus terus diingatkan kepada kita dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis. Itulah sebabnya kenapa FJPI sebagai jurnalis sebulan dua kali akan membuat kegiatan yang sifatnya seperti webinar ini, tujuannya agar kita kembali terus memastikan pengarusutamaan mainstreaming untuk semua liputan kita dan terus membangun kesadaran,”pungkas Uni. (nos

Teks foto :

Maria Hartiningsih, jurnalis senior Harian Kompas (1984-2015) sekaligus penulis dan juga penerima Yap Thiam Hien Award.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising
Pemadam Kebakaran
Surabaya Pusat
031-3533843-44
Surabaya Utara
031-3712208
Surabaya Timur
031-8411113
Surabaya Barat
031-7490486
Surabaya Selatan
031-7523687
Rumah Sakit & Klinik
RSUD Dr. Sutomo
031-5020079
RS Darmo
031-5676253
RS ST Vincentius A Paulo
031-5677562
RS William Booth
031-5678917
RS Adi Husada
031-5321256
Kepolisian
Polda Jatim
(031) 8280748
Polrestabes
(031) 3523927